Bumbu Instan

Mamah saya kalau masak lengkap sekali bumbunya, dari bumbu yang standar hingga rempah-rempah yang rumit komposisinya, tapi justru itu yang bikin masakan mamah saya enak sekali dan selalu bikin kangen kalau saya lama tak pulang. Beda kalau saya yang masak, semuanya instan! Kadang-kadang saya malah lebih memilih mie instan daripada memasak.

Itulah beda generasi dulu dengan generasi saya. Generasi mamah saya dulu semuanya dilakukan dengan perjuangan, memasak adalah contoh yang sederhana. Mamah membuat masakan dengan bumbu yang komplit hasilnya pun sepadan: nikmat tiada terkira! Masakan saya memang tidak seenak masakan mamah, tapi tidak kalah pula. Walaupun semuanya instan. Dari bumbu hingga bahan-bahan hampir semuanya instan. Justifikasi saya karena saya tidak memiliki waktu banyak. Kerja dari pukul 9 hingga jam 5 yang malah terkadang lembur membuat saya tidak mampu beraktifitas lebih pada malam hari. Menu makan pun akhirnya jadi simpel. Untung adik saya, si ucup tidak pernah protes dengan menu makan serba instan ini.

Generasi saya adalah generasi instan, yang maunya semuanya serba cepat dan langsung jadi. Bahkan ketika makan di gerai makanan cepat saji, ketika diminta menunggu 10 menit untuk menunggu ayam yang baru digoreng tanpa pikir panjang saya langsung pergi dan menuju gerai makanan cepat saji yang lainnnya. Waktu adalah uang, betul sekali pepatah itu. Di jaman sekarang kalau tidak cepat, kesempatan yang ada akan disambar dengan cepat oleh orang lain. Sambar menyambar, salip menyalip, tikung ditelikung adalah kosakata yang lumrah di generasi saya. Kami yang baru lulus kuliah dan memulai karir sebagai pesuruh ini akhirnya menyadari bahwa dunia memang tidak seindah yang keliatannya. Lalu kami pun mulai berpacu, mengikuti sistem dan mulai melupakan prinsip jalan pelan-pelan dan menikmati hidup.

Saya pun sudah lupa kapan terakhir kali saya bisa menyetir kendaraan tanpa terburu-buru. Saya tidak ingat kapan saya benar-benar pergi liburan tanpa harus ada yang dipikirkan. Hidup memang perlu diseimbangkan kan? Mungkin dengan belajar memasak dengan bumbu yang lengkap akan mengajarkan saya untuk tidak tergantung pada sesuatu yang instan. Bahwa hidup perlu perjuangan dan keseimbangan, bukan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s