Menangislah

 

Akhir-akhir ini saya banyak menghabiskan stok air mata pada beberapa hal yang bahkan sepele. Memang pada dasarnya saya ini orangnya panikan, jadi kalau ada masalah saya panik dulu baru bisa mikir. Saya nangis dulu baru bisa mikir.

“Ngapain lu nangis? Cengeng abis dah” gitu komentar temen-temen saya. “nangis tuh boros air mata enggak bakalan nyelesain masalah!” kata teman saya suatu ketika saya menceritakan kebiasaan bodoh saya ini. Tapi yah, ternyata dengan menangis beban saya jadi lebih ringan. Plong gitu rasanya.

Emang sih setiap orang punya caranya sendiri dalam menyelesaikan masalah dan menyikapi masalah. Tapi buat saya, menangis itu kayak membuang kepanikan yang muncul seiring dengan masalah yang datang. Pun pagi ini ketika mobil saya bermasalah karena oli kopling bocor saya pun bingung karena tak ada tempat bertanya. Dulu saya biasa tanya mesin kepada Ayah saya, dan ayah saya pasti bisa membereskan semua masalah.

Tapi sekarang saya harus berjuang untuk menyelesaikannya sendiri. Lumayan berhasil sih, soalnya sekarang saya udah mulai ngerti mesin sedikit-sedikit, tau cara ganti aki mobil pula. Tapi ketika pagi ini mobil saya bermasalah dan harus masuk bengkel rasanya sedih sekali karena saya sudah tidak bisa bertanya lagi tentang mesin kepada Ayah saya. Puncaknya saya nangis tidak terkendali, akhirnya saya telpon sahabat saya yang juga kehilangan Ayahnya di masa kuliah.

Untungnya temen saya ini sabar dalam menghadapi tangisan multi-histeris saya. Akhirnya setelah berhasil menguasai diri dan menengangkan diri saya berhasil curhat dengan teman saya. Menyesali diri mengapa masih juga menangis setelah sekian tahun berdiri sendiri. Teman saya pun dengan bijak menasehati saya “Kita ini bukan mesin Pit, kita ini manusia yang punya perasaan. Tidak apa-apa kamu menangis, asal abis ini harus bisa bangkit lagi”.

O! Benar juga yah. Kita ini bukan mesin, tapi manusia yang berperasaan, yang bisa menangis dan tertawa. Berati kebiasaan saya ini tidak terlalu bodoh juga. Dalam titik itu saya masih menangis, tetapi seperti pengalaman yang lalu, saya mulai bisa berpikir jernih. Seiring dengan surutnya air mata saya, lampu otak saya mulai bekerja. Aha, saatnya bangkit kembali! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s