Demi Para Pembenci dan Penghujat di Depan Mata

 

Saya tidak bisa memaksa semua orang suka dengan saya. Toh dalam hidup pun selalu ada dua sisi: benar dan salah, laki-laki dan perempuan, suka dan benci. Setiap orang punya opininya masing-masing—tapi tidak berati itu menjadikan opini tersebut menjadi kebenaran absolut.

Guru SMP saya—yang menjadi teladan dan role model bagi saya hingga sekarang—pernah menasehati saya bahwa dibenci manusia itu biasa, tapi jangan sampai dibenci oleh Tuhan.

Saya memang bukan malaikat yang bisa terus sabar—ada kalanya saya ingin melompat lalu menghajar mereka, kalau perlu sampai mati, atau membalas dendam dengan cara yang lebih menyakitkan. Oh, jangan salah, saya tahu cara menyakiti bahkan dalam jalan yang tidak terbayangkan sekalipun. Tapi buat apa? Tidak ada untungnya bagi saya, itu hanya akan menambah rentengan dosa saya yang sudah terlalu panjang.

Melupakan para pembenci dan makian-makiannya lebih melegakan dada. Maka biarkanlah orang-orang itu membenci saya. Menghujat dan menghina saya. Saya akan terus berusaha melakukan yang terbaik. Seperti kata Bang Doel dalam sinetronnya Si Doel Anak Sekolahahan yang saya tonton setiap pagi sebelum berangkat ke kantor “Dalam hidup kita hanya bisa berusaha dan berdoa. Kita harus terus berikhtiar”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s