Menabung?

Kata menabung adalah kosa kata yang asing dalam kamus saya. Well, kalau dipikir-pikir saya jarang sekali menabung, cuma sekali malah. Itu pun juga waktu masih kecil, dengan celengan angsa warna putih. Isinya macam-macam, ada logam, ada lembaran seratus rupiah, bahkan ada yang lima puluh ribuan—duit dari lebaran yang langsung ditabung. Dulu saya rajin sekali nabung, tapi akhirnya jadi malas karena yaah, saya emang ngga cocok untuk tabung-menabung. Saya lebih berbakat untuk berbelanja! That’s obvious lah ya?

Adik saya bahkan menjuluki saya “Becky Bloomwood” gara-gara kebiasaan berbelanja saya yang impulsive. Temen-temen saya dan pacar saya juga sudah mahfum sama kebiasaan saya ini. Begitu pula dengan papa saya yang memberikan uang di awal bulan dan di akhir bulan biar ngga langsung abis sama saya kalo diberi seluruhnya. Parah juga ya?

Makanya kemarin ketika temen baru saya di kantor bilang dia sudah menabung untuk tabungan masa depan—kayak tabungan pensiun gitu, saya malah bengong dan ngga ‘ngeh’ maksudnya apa. Buat apa menabung? Gitu kata saya dan temen saya pun mencibir. Menurutnya menabung itu penting, karena bisa buat jaga-jaga masa depan. Yah, emang sih kita ngga bisa memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Therefore, kita harus siap sedia dengan semua kemungkinan yang akan terjadi. Gitu kata temen saya.

Naaah, menabung adalah persiapan untuk masa depan. Bahkan dengan daya upayanya menabung 300.000 sebulan di bank, ia merasa masih takut. What? Waah, padahal buat saya menyisihkan 300.000 sebulan itu benar-benar usaha yang luar biasa. Ahaha! Jika di kalkulasikan: 300.000 x 12= 3.600.000 setahun. Sekarang ia berusia 23 tahun, usia produktif akan berakhir sekitar 55 tahun jadi pas dia umur 55 tahun jumlah tabungannya: 115.200.000. Sepintas hasil perhitungan kasar ini terlihat besar. Tetapi sesungguhnya ngga terlalu besar juga soalnya kita belum menghitung biaya inflasi pertahun dan penyusutan lainnya, belum lagi kalau ada biaya mendadak! Jadi ya belum cukup juga, gitu temen saya bersikukuh.

Waaah. Saya jadi takut juga akhirnya. Padahal saya ini pengen banget kalo nanti sudah tua, bisa jalan-jalan keliling dunia bersama pasangan. Kan sering tuh saya ngeliat bule-bule yang udah sepuh masih gandengan tangan jalan-jalan ke Indonesia. Saya juga pengen kayak gitu nantinya! Tapi kalau saya ngga nabung, kayaknya impossible ya? Kecuali saya bertemu dengan raja minyak dunia yang duitnya ngga abis tujuh turunan.

Baiklah! Mungkin ini adalah saat yang tepat bagi saya untuk menyingsingkan lengan baju, menabung! Mumpung belum menikah dan ngga punya tanggungan lain kecuali diri sendiri. But wait! Tiba-tiba lampu otak saya menyala, saya ingat kalau mau membeli blazer dan kemeja di the executive. Lucu banget dan muat di badan besar saya. Must have items pokoknya! Uum, kalo gitu nabungya besok-besok ajah deh! 😀

Advertisements

One thought on “Menabung?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s