Di Balik Jendela

Di balik jendela ini saya melihat matahari pagi yang tersenyum malu-malu, merona menyapa insan jagad dunia. Lalu ada burung-burung bertengger di dahan-dahan. Meski tak bisa mendengarnya, saya yakin kicauannya ramai sekali.

Di balik jendela ini saya melihat langit biru seperti permata. Warnanya berpendar-pendar memancarkan kegembiraan. Sesaat saya teringat warna biru lautan, lalu terbayang pasir putih yang menghampar dan gulungan ombak yang memanggil-manggil. Tapi saya hanya bisa membayangkannya, dan tetap tertahan di balik jendela.

Di balik jendela ini saya melihat pesawat terbang, ia terbang membumbung tinggi di angkasa. Menatapnya membuat saya harus kembali menahan emosi. Kapankah saya bisa terbang tinggi meraih impian. Ingin rasanya saya meruntuhkan jendela ini, lalu terbang dan tak kembali. Namun ketika pesawat hilang dari pandangan, saya tersadar bahwa saya masih duduk di balik jendela. Terkurung dan terkukung.

Di balik jendela ini saya melihat sore menjelang, matahari perlahan hilang di cakrawala. Ia memancarkan pendar-pendar lembut penuh warna nan hangat lalu hilang. Lalu gelap datang menggantikan, bersama ribuan bintang yang bertebaran, berkilau seperti ribuan berlian. Mereka masih memanggil saya untuk bergabung, merayu dan tersenyum.

Ada banyak perubahan warna di balik jendela—datang, merayu, memabukkan, gembira ria. Tetapi saya hanya tertahan di balik jendela, menatap dan putus asa. Ah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s