Euphoria Bola

 

Saya memang bukan penggemar sepak bola. Jujur saja, saya tidak pernah bisa menerima alasan seorang penggemar yang rela melakukan apa saja untuk menonton pertandingan bola. Entah itu dengan begadang sampai mata jereng, atau datang ke pertandingan langsung dengan cara apapun: seperti layaknya Bonek sejati. Semua alasan penggemar fanatik tersebut tidak pernah bisa menjadi rasional dan logis dalam analisa saya. Tapi pertandingan sepak bola yang akhir-akhir ini saya tonton benar-benar di luar logika saya.

Beberapa waktu ini saya rajin mengikuti pertandingan sepak bola dalam piala AFF, well, tepatnya mengikuti sepak terjang tim nasional Indonesia. Mungkin karena ini adalah tim sendiri, tim Indonesia yang saya banggakan—meskipun terkadang saya tidak mengetahui secara jelas siapa pemainnya, bagaimana mereka bermain, atau bahkan aturan fundamental dalam sepak bola. Saya bahkan berteriak kencang-kencang, seolah-olah tim nas dapat mendengarkan dukungan dari saya yang nun jauh di Jogja. Saya pun juga ikut memaki ketika ada pelanggaran terhadap tim nas Indonesia.

Saya bagaikan supporter euphoric yang mendukung tim nasional, supporter dadakan seperti halnya penduduk Indonesia lain. Media memberitakan bahwa penduduk Indonesia sangat mendukung tim nasionalnya. Ini sudah tidak dapat dibantahkan lagi. Bahkan protes atas kecurangan supporter Malaysia melalui twitter pun menjadi trending topic. Ini adalah fenomena yang luar biasa. Jutaan penduduk Indonesia bersatu padu menjadi satu identitas: Indonesia.

Meskipun akhirnya tim nasional harus kalah dari Malaysia, saya tidak kecewa. Saya justru bangga. Sudah beberapa tahun publik Indonesia tidak pernah melihat pertandingan yang begitu energik dan hebat dari tim nasional. Mereka sudah berusaha sangat keras, dan saya mengacungi jempol terhadap setiap pemain tim nasional Indonesia. Sudah lama sekali, penduduk Indonesia tidak pernah bersatu padu dalam satu Identitas. Bersama-sama bersorak, berteriak, dan memaki.

Kebangkitan tim nasional Indonesia adalah sesuatu yang patut disyukuri—apapun hasilnya. Meskipun saya bukan pengamat sepak bola professional, tetapi saya yakin bahwa momentum ini akan lebih mencambuk Indonesia untuk bangkit. Saya percaya, kegagalan ini akan lebih memacu Indonesia dalam mencapai kemenangan dalam pertandingan lain. Piala Asia mungkin? Atau bisa masuk dalam kualifikasi World Cup dan memenangkannya? Semoga saja!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s