KONFLIK BATIN!

Saya sebel sekali bahkan sampai jengkel setengah mati kalau punya konflik batin. Di dalam kamus saya, konflik batin berarti pertentangan antara dua kubu biasanya ‘the pros’ and ‘the cons’ di dalam diri saya. Yang bikin saya jengkel adalah, biasanya dua kubu yang berdebat di dalam diri saya canggih membuat argumen. Jadi konflik tersebut akan terus berlangsung dengan sengit dan berujung pada deadlock. Damn! Kepala saya jadi tambah pusing, dan tambah bingung menentukan posisi: mau dukung pihak mana?

Seperti sekarang ini, yak detik ini ketika saya akhirnya memutuskan menulis ini. Saya sedang mengalami konflik batin akut stadium akhir. Konflik batin ini telah terjadi selama beberapa hari dan membuat saya senewen berat.

Jika ditelisik secara lebih lanjut, ujung permasalahan konflik batin ini ada pada diri saya sendiri, walaupun batang konflik yang terlihat adalah konflik antara saya dan pacar saya a.k.a Nugroho Fitrianto a.k.a Rian Maruyan Kuyan Geong a.k.a Baby Koala. Masalah ini mulai saya rasakan ketika pacar saya tiba-tiba mendapatkan pekerjaan. Yap, tepat tiba-tiba. Karena awalnya ia hanya iseng memasukkan lamaran pekerjaan di sebuah perusahan pialang saham, dan kemudian langsung diterima. Ya, saya memang sangat bersyukur karena pacar saya berhasil mendapatkan pekerjaan tanpa susah-susah dan memiliki prospek masa depan yang sangat cerah. Saya senang karena ia telah berhasil menata hidupnya dan mapan. Tapi, kok ada ganjalan ya?

Sakit, emang saya sakit! Beberapa hari terakhir ini saya ngamuk-ngamuk dalam hati. Merutuk karena jatah perhatian pacar saya kepada saya berkurang. Menye-menye banget kan saya? Emang, dan saya akui saya emang menye-menye dan saya malu karenanya. Tapi tetep ajah, rasa sebal karena jatah perhatian ini tetap bertahan di hati saya, mengakar kuat tidak mau tumbang.

Gaya pacaran saya memang lebay a.k.a intens—ketemu tiap hari, sayang-sayangan tiap saat, walaupun ngga norak-norak amat sih. Intinya saya terbiasa ketemu setiap hari dengan pacar saya, rajin menelpon, dan lebih rajin mengirim pesan kepadanya daripada kepada Tuhan. Duuuh. Pokoknya biasa diperhatiin deh, dan saya sangat menikmati perhatian pacara saya.

Dan ketika pacar saya sibuk karena pekerjaannya, saya merasa ditinggalkan. Tuh kan, geje dan menye-menye banget kan saya? Benci deh! Harusnya saya bisa suportif kepada pacar. Harusnya saya bisa menerima kenyatan bahwa intensitas kami bertemu sudah berkurang karena ia harus bekerja dari pagi hingga sore, dan kalau malam pasti sudah lelah apabila diminta untuk bertemu. Harusnya saya mendukungnya karena tuntutan pekerjaanya berat dan bikin stress. Tapi eeh, malah ngambek. Saya benci. Tapi gimana dong?

Akhirnya saya memutuskan untuk curhat kepada Tiara—konco kentel yang juga ngekos di tempat sama dengan saya. Katanya setiap pasangan akan mengalami hal itu, dan wajar kalau saya merasa ditinggalkan. Tapi yang membuat saya tersadar akhirnya adalah harusnya saya mendukung pacar saya karena toh semua itu akan menguntungkan kami berdua di masa depan. Oke, ini memang benar. Saya memang berencana akan mengenalkan Rian secara resmi ke hadapan mamah saya ketika ia sudah bekerja. Dan perkara sms dan telpon yang jarang, ia juga menganjurkan saya untuk lebih asertif.

Hmm.. memang serba salah. Maunya marah tapi Rian juga ngga salah, saya yang salah. Time will heal kata Tiara. Semoga saja, batin saya. Soalnya saya juga benci kalau saya menye-menye kayak gini. Huh!

Advertisements

One thought on “KONFLIK BATIN!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s