Kembali Merajuk

Kembali merajuk, kamu datang dengan masalah yang sama. Menantangku untuk melakukan hal yang sama. Menyentilku dengan tajam, tapi aku tak bergeming. Bah, apa pedulimu? Sedang keberadaan dirimu saja ku pertanyakan!

Apa peduliku, jawabmu: aku peduli karena sialnya masa depanku berada di tanganmu. Aku sial sekali karena harus bergantung padamu. Brengsek, kau pemalas tingkat tinggi! Demikian kau mengumpat, meracap dan merajuk kepadaku.

Memang, aku selalu nyaman ada di arena ini. Arena yang damai, dan menenangkan. Tapi monoton, dan stagnan menurutmu. Kau juga menuding aku semakin tenggelam ke dalam lautan ilusi tanpa dasar. Apakah memang benar begitu?

Aku memang melewati hari-hariku dengan biasa. Namun selalu bermimpi pada keajaiban—yang kau bilang takkan pernah ada, namun bagiku seperti ekstasi untuk mencapai ekstase, maka tak heran jika aku kecanduan: pada hal yang sama dengan dosis yang lebih besar. Harusnya kau lebih bisa realistis kawan, kembali kau menegurku dengan tajam.

Ah, memang kau pandai membangun argumen, kali ini aku tersentil. Tetapi malas tetap menggelayut mesra, membelai manja lalu aku pun terlupa padamu. Maaf. Dan kau pun kembali merajuk, meracap, menghujat atas ketidakmampuanku.

Advertisements

2 thoughts on “Kembali Merajuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s